Diam Buka Lagi Pilihan
- 03/09/2026
- 693
- 0 comment
Penulis: Nora Ridha Maharanii
Editor: Astried Permata
Kekerasan Berbasis Gender dan Seksual (KBGS) masih menjadi persoalan serius yang sering kali disembunyikan di balik kata “aib”, “urusan pribadi”, atau “jangan dibesar-besarkan”. Padahal, setiap kasus menyimpan luka nyata fisik dan psikis yang tidak bisa dihapus hanya dengan waktu. Sayangnya, korban acapkali diminta diam demi menjaga nama baik keluarga, institusi, atau bahkan pelaku itu sendiri.
Hal ini disebabkan oleh budaya menyalahkan korban (reviktimisasi) masih begitu kuat di tengah masyarakat. Ketika seseorang mengalami pelecehan atau kekerasan, pertanyaan yang muncul adalah apa yang dikenakan korban, di mana ia berada, atau mengapa ia tidak melawan. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak hanya tidak adil, tetapi juga kejam karena memperparah trauma bagi korban. Alih-alih mendapat dukungan, korban justru merasa sendirian dan bersalah atas kekerasan yang menimpanya.
Lebih jauh, KBGS sarat akan ketimpangan relasi kuasa. Kekerasan jelas bukan semata-mata soal dorongan seksual, melainkan tentang kontrol dan dominasi. Ketika seseorang merasa memiliki kuasa lebih, baik karena gender, jabatan, usia, maupun status sosial lainnya, maka potensi penyalahgunaan kuasa menjadi besar. Dalam situasi seperti ini, korban dilihat lebih rendah atau subordinat sehingga tubuhnya dibuat seakan-akan bukan milik korban.
Yang lebih memprihatinkan, kekerasan dapat terjadi di berbagai ruang, termasuk rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan ruang digital. Media sosial yang seharusnya menjadi tempat berekspresi jsutru berubah menjadi ruang pelecehan verbal, komentar seksual yang merendahkan, hingga penyebaran konten tanpa persetujuan. Perkembangan teknologi yang tidak selalu diiringi dengan peningkatan literasi digital, sensitivitas gender, dan etika bersosial media, membuat teknologi jadi medium kekerasan bagi perempuan dan kelompok rentan.
Di tengah kenyataan yang berat, semakin banyak korban yang berani bersuara. Keberanian ini tentu menemukan banyak tantangan. Dibutuhkan kekuatan besar, melawan rasa sakit untuk menceritakan pengalaman traumatis di tengah masyarakat yang masih patriartkis dan cenderung menyalahkan korban. Ketika satu korban berani bicara, sebenarnya ia sedang membuka ruang bagi banyak korban lain yang mengalami hal serupa tetapi masih terjebak dalam ketakutan.
Namun keberanian korban saja tidak cukup. Lingkungan sekitar harus siap mendukung. Mendengarkan tanpa menghakimi adalah langkah awal yang sederhana tetapi sangat berarti. Kalimat seperti, “Saya percaya kamu” atau “Itu bukan salahmu” dapat menjadi titik awal pemulihan bagi korban. Dukungan emosional dan akses terhadap bantuan hukum maupun psikologis juga sangat penting agar korban tidak merasa berjalan sendirian.
Di saat yang bersamaan, pendidikan menjadi kunci perubahan jangka panjang. Anak-anak perlu diajarkan sejak dini tentang menghargai tubuh diri sendiri dan orang lain. Untuk itu mereka juga perlu diajarkan pentingnya persetujuan. Konsep bahwa setiap orang berhak mengatakan tidak harus dipahami tanpa pengecualian. Anak laki-laki perlu dibesarkan dengan nilai empati dan penghormatan, bukan dengan anggapan bahwa mereka harus selalu dominan. Anak perempuan perlu diyakinkan bahwa suara mereka penting dan layak didengar.
Institusi seperti sekolah, kampus, dan tempat kerja juga harus memiliki sistem penanganan dan pencegahan KBGS yang jelas dan berpihak pada korban. Tidak boleh ada toleransi terhadap pelaku hanya karena reputasi atau status sosial pelaku. Transparansi dan akuntabilitas adalah fondasi untuk membangun rasa aman bersama.
KBGS bukan isu perempuan semata. Ini adalah isu kemanusiaan. Selama masih ada orang yang takut berjalan sendirian, takut berkata tidak, atau takut melapor atas kekerasan yang ia alami, berarti ada yang salah dengan sistem kita. Diam bukan lagi pilihan. Setiap kali kita memilih untuk tidak peduli, kita memberi ruang bagi kekerasan untuk terus terjadi.
Perubahan memang tidak datang dalam semalam. Namun perubahan selalu dimulai dari kesadaran dan keberanian. Dengan membangun empati, menolak budaya menyalahkan korban, serta menciptakan ruang aman bagi siapa pun untuk bersuara, kita sedang mengambil langkah menuju masyarakat yang lebih adil dan setara, di mana setiap orang berhak atas rasa aman dan penghormatan terhadap tubuhnya sendiri.
Mini Bio:
Nora Ridha Maharani adalah pribadi yang peduli pada isu keadilan sosial dan berani menyuarakan hal-hal yang sering dianggap tabu. Ia percaya bahwa perubahan dimulai dari kesadaran dan keberanian untuk berbicara.







Add Comment