Add Listing

Beban Berlapis Perempuan: Ketika Kekerasan Tidak Meninggalkan Luka Fisik

Penulis: Laras Nganti W

Penulis: Laras Nganti W

Editor: Astried Permata

Dalam kehidupan sehari-hari, masih banyak orang yang tanpa sadar memandang rendah kerja-kerja perawatan yang dilakukan perempuan. Dalam masyarakat patriarkis, perempuan dibebankan dan dipotret sebagai satu-satunya sosok yang bertanggungjawab membentuk masa depan anak-anaknya. Peran gender yang timpang membuat perempuan, utamanya seorang ibu, jadi individu yang mengajarkan tentang nilai-nilai kehidupan untuk pertama kalinya bagi anak-anak mereka. Atas segala tuntutan memikul peran teresebut, perempuan yang melakukan kerja-kerja domestik di rumah mengalami kekerasan, yang acap kali tidak berbentuk kekerasan fisik atau kata-kata kasar, melainkan kelelahan fisik, tekanan emosional ataupun mental akibat budaya yang “menormalisasi” peran berlapis bagi perempuan. Dengan kata lain, kekerasan tersebut berbentuk pelanggengan norma gender patriarkis yang membawa ketidakadilan bagi perempuan dari generasi ke generasi.

 

Banyak perempuan yang hidup dan tumbuh di keluarga dengan sistem patriarki. Sejak kecil mereka diajarkan dan menyaksikan langsung peran-peran domestik yang dibuat masyarakat “wajib” bagi perempuan seperti membantu ibu di dapur, membersihkan rumah, merapikan segala hal yang dianggap sebagai “urusan perempuan”. Hal tersebut dilakukan sehari-hari seolah-olah menjadi sesuatu yang wajar sehingga tidak perlu dipertanyakan. Di satu sisi, tidak ada tuntutan serupa yang dibebankan kepada anak laki-laki. Sebaliknya, mereka dijauhkan dari kerja-kerja rumah tangga untuk menjaga karakteristik maskulinitasnya. Anak laki-laki yang melakukan kerja-kerja perawatan di rumah justru dicap “kurang laki-laki” atau “ke-perempuan-perempuan-an”. 

 

Norma gender patriarki juga mempengaruhi cara keluarga merespon perilaku anak laki-laki dan perempuan secara berbeda. Perilaku tidak bertanggung jawab yang dilakukan oleh laki-laki cenderung ditoleransi atau dihadapi dengan pendekatan yang lebih lunak. Sebaliknya, perempuan sering kali dihadapkan pada standar moral dan tanggung jawab yang lebih tinggi: diatur tutur katanya, cara berpakaian, tertawa dan merespon percakapan, hingga tingkah laku cara anak perempuan “membawa diri” di hadapan orang lain.  Perbedaan perlakuan ini memperkuat ketimpangan gender yang kemudian diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

 

Tekanan atas norma gender tidak berhenti sampai di situ. Dalam sistem ekonomi kapitalis seperti sekarang ini perempuan tidak hanya menanggung beban domestik dan standar moral, melainkan juga berperan signifikan dalam menghidupi ekonomi keluarga. Situasi tidak kalah penting ketika perempuan harus mengambil peran sebagai kepala keluarga sekaligus. Meski menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga dan melakukan kerja-kerja merawat di saat yang bersamaan, posisi kepala keluarga tetap tidak diakui. Masyarakat menganggap hal tersebut tidak lazim. Butuh advokasi panjang untuk mengubah status perempuan menjadi kepala keluarga dalam dokumen-dokumen administrasi negara.  Di samping itu, perempuan kepala rumah tangga harus menghadapi pandangan sebelah mata dari masyarakat, terlebih jika ia berstatus janda atau orang tua tunggal. Situasi ini tentu tidak dialami oleh status duda atau laki-laki orang tua tunggal. 

 

Minimnya pengakuan sosial terhadap perjuangan perempuan yang menjadi kepala keluarga juga dapat memperkuat bentuk kekerasan simbolik terhadap perempuan. Kerja keras mereka dianggap sebagai sesuatu yang “seharusnya dilakukan”, bukan sebagai bentuk tanggung jawab besar yang layak dihargai. Hal ini menunjukkan bahwa sistem patriarki tidak hanya membatasi peran perempuan, tetapi juga meremehkan kontribusi mereka ketika perempuan mengambil tanggung jawab yang lebih besar dalam keluarga. Situasi tersebut, sekali lagi, menunjukkan bahwa kekerasan terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan yang agresif, tetapi juga muncul dalam bentuk ketidakadilan struktural yang berlangsung secara terus-menerus. Beban yang tidak seimbang, ekspektasi yang lebih tinggi terhadap kerja domestik dapat menimbulkan luka batin yang tidak terlihat namun berdampak panjang terhadap kesejahteraan emosional perempuan.

 

Oleh karena itu, penting untuk kita memahami bahwa upaya penghapusan kekerasan terhadap perempuan tidak hanya berfokus pada pencegahan kekerasan fisik, tetapi juga pada transformasi cara pandang terhadap peran gender dalam keluarga dan masyarakat. Kesetaraan gender dalam keluarga dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti pembagian tanggung jawab rumah tangga yang adil, penghargaan terhadap kerja domestik, serta pendidikan yang mengajarkan bahwa tanggung jawab keluarga merupakan tugas bersama, bukan semata-mata kewajiban gender tertentu.

 

Perubahan budaya memang tidak dapat terjadi secara instan, terutama ketika praktik tersebut telah berlangsung lama dan dianggap sebagai bagian dari tradisi. Namun, kesadaran terhadap ketidakadilan tersebut merupakan langkah awal yang penting. Dengan membangun pemahaman yang lebih kritis terhadap sistem patriarki, generasi berikutnya memiliki peluang untuk menciptakan pola relasi keluarga yang lebih adil dan setara. Keluarga seharusnya menjadi ruang aman bagi setiap anggotanya, tempat di mana tanggung jawab dan dukungan dibagi secara seimbang tanpa dibatasi oleh perbedaan gender.

Prev Post
Melindungi Perempuan: Edukasi Dini sebagai Kunci Pencegahan Kekerasan Fisik dan Seksual

Add Comment

Your email is safe with us.