Add Listing

Bagaimana cara melawan rape culture dan victim blaming?

Bagaimana cara melawan rape culture dan victim blaming?

Ketika kita berbicara soal kekerasan berbasis gender, hal tersebut tidak terlepas dari rape culture (budaya pemerkosaan) dan victim blaming (menyalahkan korban). Tapi sebenarnya apa itu rape culture? Apa itu victim blaming? Dan apa hubungannya dengan kekerasan berbasis gender? Bagaimana kita dapat melawan hal tersebut?

Apa itu rape culture?

Rape culture adalah lingkungan di mana pemerkosaan dan kekerasan seksual dinormalisasi (dijadikan sesuatu yang biasa) dan dimaafkan oleh kebanyakan orang. Rape culture dilanggengkan melalui penggunaan bahasa yang misoginis (mengandung unsur kebencian atau diskriminasi terhadap perempuan) serta perilaku yang mengobyektifikasi tubuh perempuan sehingga menciptakan masyarakat dan lingkungan yang abai terhadap hak dan keamanan perempuan.

Apa saja contoh dari rape culture?

  1. Menyalahkan korban (“Kamu ga coba melawan sih!”)
  2. Meremehkan kekerasan seksual (“Cuma dipegang gitu aja kok.”)
  3. Membuat lelucon seksual
  4. Mengtoleransi pelecehan seksual
  5. Mengkritisi pakaian, kondisi mental, atau sejarah pribadi korban
  6. Berasumsi bahwa laki-laki tidak mendapatkan kekerasan seksual
  7. Menolak untuk menanggapi laporan perkosaan dengan serius
  8. Mengajari perempuan untuk tidak diperkosa (dari pada mengajari laki-laki untuk tidak memperkosa).

Apa itu victim blaming?

Victim blaming adalah perilaku menyalahkan korban atas kekerasan yang terjadi pada diri korban.

Misalnya, jika seorang perempuan kena pelecehan seksual, mungkin ada yang menyalahkan dia karena baju yang dia kenakan (misalnya, rok mini atau tidak berhijab), atau kalau ada perkosaan perempuan, bisa jadi ada yang menyalahkan dia karena dia tidak teriak untuk bantuan.

Perilaku seperti ini bisa dikatakan victim blaming karena menyalahkan korban, padahal bukan korban yang salah.

Mengapa victim blaming itu berbahaya?

Perilaku menyalahkan korban membuat korban sulit untuk berbicara, bercerita, dan melaporkan kekerasan yang dialaminya karena akan membuat mereka merasa bahwa mereka tidak memiliki ruang aman untuk bercerita.

Selain itu, perilaku menyalahkan korban melepaskan tanggung jawab dari pelaku dan malah membebankannya kepada korban. Dengan terlibat dalam sikap menyalahkan korban, masyarakat memberikan ruang bagi pelaku untuk melakukan pelecehan atau kekerasan seksual.

Bagaimana kita dapat melawan rape culture dan victim blaming?

  1. Hindari menggunakan bahasa yang mengobjektifikasi atau merendahkan perempuan.
  2. Bicaralah jika anda mendengar orang lain membuat lelucon yang menyinggung penyintas atau meremehkan kekerasan seksual dan perkosaan.
  3. Apabila teman bercerita atau melaporkan kekerasan, tanggapinya dengan serius!
  4. Beri tahu penyintas bahwa itu bukan salah mereka.
  5. Memastikan pelaku kekerasan untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka.
  6. Jangan biarkan stereotip menentukan tindakan kalian.
  7. Jadilah pengamat yang aktif (active bystander)! Jika kamu lihat kekerasan, baiknya membantu korban.

Jadi yuk, kita semua sama-sama memberikan ruang aman bagi korban dan penyintas.

Dan apabila kalian atau teman/keluarga/kerabat mengalami kekerasan dan membutuhkan bantuan, pendampingan, atau layanan lain maka kalian dapat menghubungi lembaga layanan terdekat. Selalu ingat bahwa kekerasan yang terjadi, bukanlah kesalahan dari korban!

Tags:
Prev Post
Tanda-tanda hubungan tidak sehat
Next Post
9 cara bantu akhiri kekerasan berbasis gender

Add Comment

Your email is safe with us.

Skip to content