Add Listing

9 cara bantu akhiri kekerasan berbasis gender

9 CARA BANTU AKHIRI KEKERASAN BERBASIS GENDER

Kekerasan berbasis gender merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang sudah berlangsung terlalu lama. Menurut survei yang dirilis oleh Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA), ditemukan bahwa 3 dari 5 perempuan dan 1 dari 10 laki-laki pernah mengalami pelecehan di ruang publik. Karena sifatnya yang destruktif terhadap masyarakat, komunitas, dan keluarga, maka kekerasan berbasis gender perlu ditanggapi secara menyeluruh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat sipil.

Namun, apa saja yang dapat kita lakukan untuk membantu mengakhiri kekerasan berbasis gender?

1. DENGAR DAN PERCAYA KORBAN

Ketika penyintas berbagi kisah kekerasan yang terjadi, tugas dari kita adalah untuk memberikan ruang aman bagi mereka untuk bercerita.

Hindari mengatakan, “Kenapa ga lo tinggalin?

Katakan, “Kami mendengarmu. Kami percaya, dan kami mendukung kamu.”

2. DORONG ADANYA LEMBAGA LAYANAN

Layanan yang memadai dan aman bagi penyintas adalah suatu hal yang wajib.

Tempat singgah/rumah aman, hotline, konseling, dan semua dukungan yang dibutuhkan oleh penyintas kekerasan berbasis gender harus tersedia bagi mereka yang membutuhkan. Terutama selama pandemi virus corona ini.

3. PAHAMI CONSENT

Diam bukan berarti iya.

Konsen artinya mendengar kata “Ya.” secara antusias dan aktif dari semua pihak yang terlibat tanpa adanya ancaman/paksaan.

Frasa seperti “dia ga bilang tidak.” atau “namanya juga laki-laki” berusaha mengaburkan batasan di persetujuan seksual, menyalahkan korban, dan membebaskan pelaku dari kejahatan yang telah mereka lakukan.

4. PAHAMI TANDA-TANDA KEKERASAN

Jika kalian khawatir ada seorang teman mungkin mengalami kekerasan, pahami tanda-tandanya dan pelajari hal-hal yang dapat kalian lakukan untuk membantu.

Atau jika kalian mengalami kekerasan, hubungi lembaga layanan terdekat untuk meminta bantuan/konseling. Kamu tidak sendirian.

5. BUKA RUANG DISKUSI

Kekerasan terhadap perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia yang telah berlangsung terlalu lama.

Bicaralah, buka ruang diskusi, mulai percakapan soal gender sejak dini dan tunjukkan solidaritas kalian dengan para penyintas dalam memperjuangkan hak-hak perempuan. Setiap dari kita memiliki peran untuk mengakhiri ini.

6. AKHIRI RAPE CULTURE

Budaya pemerkosaan adalah pemakluman masyarakat atas kekerasan seksual.

Dari sikap dan perilaku yang kita miliki tentang identitas gender sampai kebijakan yang kita dukung, kita semua dapat mengambil tindakan untuk melawan budaya pemerkosaan.

7. BERDONASI KE ORGANISASI HAK-HAK PEREMPUAN DAN LEMBAGA LAYANAN

Kalian juga dapat berdonasi ke organisasi lokal yang memperjuangkan hak-hak perempuan, mendorong suara mereka, mendukung penyintas, dan mendukung adanya kesetaraan bagi semua identitas gender dan seksualitas.

8. JADILAH PENGAMAT AKTIF

Kekerasan bisa terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk pelecehan seksual di tempat kerja dan di ruang publik.

Jadilah pengamat yang aktif ketika kalian melihat: catcalling, komentar seksual yang tidak pantas, dan lelucon seksis.

Kalian dapat melakukan intervensi dengan cara 5D, yang dapat dilihat di Hollaback! Jakarta.

9. MINTA DATA!

Pengumpulan data yang relevan adalah kunci untuk menerapkan langkah-langkah pencegahan yang efektif, selain itu data  dapat digunakan untuk memberikan dukungan yang tepat kepada para penyintas.

Ingat bahwa setiap dari kita memiliki peran yang penting dalam perjuangan ini.

Maka dari itu, yuk kita sama-sama membantu mengakhiri kekerasan berbasis gender!

Tags:
Prev Post
Bagaimana cara melawan rape culture dan victim blaming?

Add Comment

Your email is safe with us.

Skip to content