Add Listing

Kenapa Korban KDRT Sering Menarik Kembali Laporannya?

Photo by NEOSiAM 2021.

Kenapa Korban KDRT Sering Menarik Kembali Laporannya?

Salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah ketika korban menarik laporannya kembali.

Namun, kejadian ini tidak berarti laporan yang dibuat korban adalah laporan palsu atau korban hanya mencari perhatian.

Lantas, apa saja sih hal-hal yang kerap membuat korban menarik kembali laporannya? Mari kita membaca!

  1. Manipulasi dari pelaku. Pelaku kerap kali berupaya memanipulasi korban dengan mengatakan bahwa apa yang terjadi merupakan kesalahan korban. Contohnya: “Aku tuh memukul kamu karena kamu bikin aku marah kemarin!”
    Pelaku juga kerap berperilaku baik setelah melakukan kekerasan, seperti memberikan kado, bersikap romantis, serta meminta maaf dan berjanji untuk berubah atau tidak mengulanginya lagi. Hal ini terkadang dapat membuat korban merasa bingung dan mempertanyakan realita yang ada, walaupun kekerasannya benar-benar terjadi.
  2. Cemooh dari keluarga dan kerabat. KDRT kerap dinormalisasi di masyarakat kita. Tidak jarang ketika korban bercerita ke keluarga dan kerabat dekatnya, mereka malah mengatakan bahwa itu adalah sesuatu yang wajar terjadi di rumah tangga dan bukan masalah yang besar. Bukan hanya itu, korban kerap diminta untuk diam karena dianggap akan menjadi “aib keluarga”.
  3. Tidak adanya sistem pendukung (support system). Proses hukum di Indonesia umumnya memakan waktu yang panjang. Belum lagi, aparat hukum sering tidak berpihak pada korban dan malah memberikan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan korban, seperti: “Apa yang kamu lakukan yang bikin dia marah?” Hal ini tentunya dapat terasa sangat melelahkan, terutama ketika korban tidak memiliki orang-orang di sekitar yang dapat memberikan dukungan.

Hal-hal di atas dapat menyebabkan korban akhirnya memaafkan pelaku dan mencabut tuntutannya.

Bagaimana kita membantu orang yang mengalami KDRT?

Lalu jika orang di sekitar kita mengalami KDRT, apa yang dapat kita lakukan?

  1. Bantu korban menyadari bahwa apa yang terjadi merupakan kekerasan.
  2. Luangkan waktu untuk mendengarkan cerita korban.
  3. Percaya cerita korban dan membenarkan perasaan mereka.
  4. Beri tahu bahwa kekerasan yang dialami bukan kesalahan mereka.
  5. Jangan menghakimi pilihan korban, bahkan jika mereka memutuskan untuk tetap menjalani hubungan. Meninggalkan hubungan yang abusif adalah hal yang cukup sulit, terutama ketika korban sering mendapatkan manipulasi dari pelaku atau ketika korban merasa takut akan keamanannya.
  6. Bantu korban untuk membuat peta keamanan, seperti di mana korban akan tinggal untuk sementara waktu, kode/sinyal yang dapat diberikan ke teman atau keluarga ketika membutuhkan bantuan, atau mempersiapkan tas darurat berisi uang tunai dan dokumen penting yang dapat diakses dengan mudah dalam situasi krisis.
  7. Cari bantuan ke lembaga layanan terdekat. Kamu dapat mencari informasi lembaga layanan terdekat di seluruh Indonesia di website carilayanan.com. Jangan menunda untuk menghubungi lembaga layanan ya, karena kami ada untuk membantu kamu.
Prev Post
Persimpangan Identitas Sosial: Diskriminasi Berlapis dalam Kekerasan Berbasis Gender
Next Post
Kekerasan di tempat kerja

Add Comment

Your email is safe with us.

Skip to content